Prof. Dr. Arif Satria, S.P, M.Si - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Rektor Muda, Legacy Lewat Lagu, Tugas BRIN dari Presiden
Kepala BRIN Arif Satria (Istimewa)
law-justice.co - Prof. Dr. Arif Satria, S.P, M.Si merupakan salah satu akademisi yang belum lama ini dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 10 November 2025.
Arif lahir di Pekalongan pada 17 September 1971 dan ia juga dikenal sebagai akademisi yang sejak muda berkuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), setelah menyelesaikan pendidikan dari SD hingga SMA di Pekalongan.
Menyelesaikan pendidikan Sarjana dan Magister di IPB, Arif juga aktif sebagai aktivis mahasiswa dan bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan terlibat aktif juga di Korps Alumni HMI (KAHMI).
Arif terhitung menyelesaikan pendidikan Doktor dari Department of Marine Social Science Universitas Kagoshima pada tahun 2006 ketika usianya kala itu masih 35 tahun.
Kemudian pada tahun 2010, Arif terpilih menjadi Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB dan menjadi Dekan termuda di lingkungan IPB dan berhasil menanamkan budaya korporat di institusinya melalui aplikasi praktik manajemen modern berbasis teknologi informasi.
Selain itu, Ia juga kerap kali aktif menjadi pembicara dalam seminar nasional, lokakarya, dan konferensi Internasional. Salah satunya menjadi delegasi Indonesia pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi Rio +20 yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Rio de Janeiro, Brasil, pada tahun 2012.
Pada bulan November 2017, Arif ditetapkan sebagai Rektor IPB terpilih oleh Majelis Wali Amanat IPB melalui musyawarah mufakat. Visi yang dibawa Arif ketika menjadi rektor adalah mewujudkan IPB sebagai kampus rujukan di era disrupsi.
Tidak hanya itu, Arif juga diangkat menjadi guru besar tetap dalam bidang ekologi-politik di IPB pada tahun 2019. Selain itu ia juga sempat terlibat aktif menjadi tim ahli di Kementerian KKP.
Dalam menjalankan pekerjaan, Arif mengajak seluruh civitas untuk menjaga modal terbesar sebuah institusi, yaitu integritas yang menjadi modal penting majunya sebuah bangsa.“Membangun integritas berarti membangun trust. Kepercayaan antar-sesama menjadi tahap yang sangat kondusif untuk berbuat dan menjadi modal penting bagi kemajuan ekonomi bangsa," kata Arif dalam acara Rabuan terakhir sebagai Rektor IPB, Rabu (03/12/2025).
Jadi Dekan Termuda dan Rektor Muda
Ketika terpilih menjadi Dekan FEMA IPB, Arif terpilih pada usia 39 tahun, tidak hanya itu meski pada saat itu FEMA menjadi Fakultas termuda di IPB, ia berhasil menciptakan beberapa prestasi untuk FEMA IPB.
Keberhasilan menjadi Dekan, mengantarkan sosok ayah dua anak ini terpilih menjadi Rektor pada tahun 2017 yang saat itu berusia 46 tahun. Tentu saja menjadi Rektor yang terbilang muda untuk memimpin salah satu institusi perguruan tinggi terbesar di Indonesia menjadi tantangan tersendiri untuk Arif.
Di lingkungan IPB, Arif juga dikenal sebagai sosok yang dekat dengan sesama dosen dan mahasiswanya. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang penuh inspirasi, terbuka, dan motivasi di kalangan mahasiswa dan akademisi IPB.
"Kunci yang menguatkan untuk tetap bertahan adalah kesabaran dan keyakinan," imbuhnya.
Meski menjadi Rektor di Usia muda, Arief menyatakan seseorang dikatakan muda itu relatif. Orang muda yang berpikirnya selalu ke masa lalu itu menurutnya cenderung kolot. Dan sebaliknya, orang tua yang selalu berpikir ke depan itu orang muda. Menurutnya, menjadi muda atau tua itu bukan suatu biologis tapi soal visi, soal direncanakan. Tetapi sebenarnya tidak ada perencanaan secara khusus.
"Kita mengalir saja. Syarat jadi rektor, harus jadi profesor sekian lama. Saya belum profesor saat itu, aturannya memang bisa bagi yang belum profesor,” ujarnya.
Salah satu misi Ketua ICMI tersebut ketika terpilih menjadi Rektor IPB adalah ingin membawa IPB menjadi kampus yang bisa berperan di era yang disebutnya penuh dengan turbulensi dan ketidakpastian.
Arif ingin membawa IPB menjadi kampus yang terbuka bagi tumbuhnya kreativitas dan inovasi guna menggerakan perekonomian dengan mencetak banyak wirausahawan. Ditengah kondisi global yang tidak menentu dan tidak bisa ditebak, tentu menjadi seorang yang pelajar menjadi kunci untuk menghadapi dunia yang dinamis.
“Target saya ada 10 persen alumni IPB yang baru lulus, aktif di bidang wirausaha, ini sama dengan sekitar 400 start up baru,” ucapnya.
"Hanya seorang Pelajar yang bisa beradaptasi dengan perubahan," sambungnya.
Ciptakan Legacy Melalui Lagu
Sisi lain dari Pria berusia 54 tahun tersebut adalah kemahirannya dalam menciptakan lagu karena memang Arif memiliki hobi bermain musik. Arif mengatakan banyak cara untuk membangun legacy dan sejarah baru, salah satunya melalui lagu. Karya lagu yang diciptakan sebagai bentuk kontribusi terhadap masa depan.
Arif menyebut sudah menciptakan beberapa lagu selama bertugas di IPB, pasalnya lirik-lirik lagu yang disajikan itu menjadi pengingat bahwa hidup harus berarti. Ia berpesan, seseorang harus memiliki arti dan makna dalam kehidupan, bertekad untuk meninggalkan legacy dan sejarah baru dengan menciptakan dimensi kebermanfaatan lebih luas. Sederhananya, hidup berarti adalah yang terus menebar manfaat untuk orang lain.
“Memberi arti dan makna dalam hidup yang berarti dapat menjadikan kita menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain. Ini adalah prinsip dan sebuah anugerah dalam hidup yang harus kita syukuri dengan memberikan langkah yang terbaik,” ucapnya.
Akademisi yang kerap kali menyuarakan gagasan `Ekonomi Biru` tersebut menceritakan salah satu pengalaman yang tidak terlupakan ketika terkena Covid-19, dan Ia berhasil menciptakan lagu dengan judul `Kusadari` dalam momentum untuk refleksi tentang kehidupan. Arif yang telah menciptakan banyak lagu dan beberapa album mengatakan ketika ia terkena Covid-19 dijadikan momen untuk tetap berprasangka positif pada tuhan.
“Yang paling penting adalah untuk sinari batin dan beningkan hati dengan memahami keputusan Tuhan dengan berprasangka positif. Prasangka positif harus diiringi dengan sikap optimisme,” tuturnya.
Arif juga sempat menciptakan lagu dengan judul ‘Kampus Terbaik’ sebagai bagian dari optimisme dan visi tentang masa depan dalam rangka membuat sejarah baru. Arif memaparkan bila setiap orang dapat mewujudkan sejarah baru dengan beradaptasi dengan kehidupan dan selalu berpikir positif tentang masa depan.
“Lagu-lagu yang saya ciptakan diharapkan membawa pesan positif dan optimisme untuk membuat kita menjadi yang terbaik. Pesan saya terhadap mahasiswa adalah antara akal dan hati harus berpadu. Antara ilmu dan jiwa pengabdian harus menyatu. Itulah modal kita untuk membuat sejarah baru,”paparnya.
Telepon Dadakan Dari Seskab Tedi untuk Jadi Kepala BRIN
Arif menceritakan salah satu pengalaman menarik, menjelang pelantikannya sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Senin (10/11/2025) lalu.
Arif mengungkapkan bahwa dirinya menerima pemberitahuan mendadak dari Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya. Arif menyebut, bila ia dihubungi pada sekitar pukul 12.30 WIB dan diminta hadir di Istana untuk menerima penugasan baru.
“Jadi waktu itu, pada pukul setengah satu, saya dihubungi Pak Seskab Teddy bahwa ada penugasan untuk saya. Bidang yang ditugaskan pun sesuai dengan bidang yang selama ini saya geluti,” ungkapnya.Arif diminta hadir pukul 14.30 WIB karena pelantikan dijadwalkan berlangsung pada pukul 15.00 WIB. Ia kemudian langsung berangkat menuju Istana. Arif juga mengungkapkan bahwa sebelumnya juga ia sudah beberapa kali berkomunikasi dengan Presiden Prabowo dalam berbagai forum dan rapat.
“Saya banyak menangkap pesan-pesan beliau terkait arah Indonesia ke depan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa BRIN akan mengawal program-program prioritas Presiden, khususnya di bidang pangan, energi, dan air. Menurutnya, ketiga sektor tersebut membutuhkan dukungan riset dan inovasi yang kuat.“Riset dan inovasi menjadi tumpuan. Negara yang memiliki kekuatan riset dan inovasi hampir selalu memiliki korelasi positif dengan kemajuan ekonomi. Jika global innovation index suatu negara tinggi, GDP per kapitanya hampir pasti tinggi,” jelasnya.Arif menambahkan bahwa Indonesia perlu segera memperkuat kapasitas penelitian dan inovasinya. Selain itu, konsolidasi nasional dalam ekosistem riset dan inovasi dinilai penting untuk memperkuat kolaborasi, baik secara horizontal maupun vertikal.
Secara horizontal, BRIN akan memperkuat sinergi dengan berbagai kementerian dan lembaga, terutama Kementerian Design Tech yang memiliki kekuatan riset dan talenta di bidang sains dan teknologi. Ia juga menegaskan pentingnya kerja sama dengan sektor industri.“Bidang industri adalah mitra strategis yang harus kita dukung untuk mendorong kemajuan ekonomi dan industri nasional,” ujarnya.
Namun, Arif tak menutup mata terhadap kendala klasik yang berada di dunia riset. Terutama terkait pendanaan dan tentu hal tersebut menjadi tantangan tersendiri.”Dana memang salah satu faktor penting yang harus terus diperjuangkan, karena kalau kita tahu dana penelitian di negara lain itu besar sekali,” ucapnya.
Meski begitu, Rektor IPB periode 2017-2025 tersebut optimistis dengan peluang kolaborasi yang ada. Menurutnya, kemitraan dengan lembaga pendanaan seperti Danantara serta keterlibatan industri akan memperkuat pembiayaan riset nasional.”Industri tanpa inovasi yang kuat, tanpa R&D yang kuat, akan berat,” tutupnya.
Share:
Tags:




Komentar