Tifauzia Tyassuma (Dokter Tifa)
Dulu Bangga Dukung Jokowi, Kini Vokal Kritik Jokowi dan Gibran
Dokter Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa (Tribunnews)
[INTRO]
Ia sempat menjabat sebagai Direktur Eksekutif di Center for Clinical Epidemiology & Evidence RSCM Jakarta pada tahun 2009. Satu tahun setelahnya, yaitu pada 2010, Dokter Tifa dipercaya untuk menjabat posisi Sekretaris Jenderal Indonesian Clinical Epidemiology & Evidence-Based Medicine Network.Selain itu, ia juga menjabat sebagai presiden Ahlina Institute, Jakarta sejak tahun 2017. Ahlina Institute sendiri merupakan sebuah lembaga yang berfokus pada edukasi kesehatan, nutrisi, serta neurosains di Indonesia.Nggak hanya di bidang kesehatan, Dokter Tifa juga turut berkarya dengan menjadi seorang penulis. Ia diketahui telah menerbitkan dua buku yang berjudul “Body Revolution” dan “Nutrisi Surgawi”.Dalam kedua buku itu, Dokter Tifa membahas hal-hal yang telah dikuasainya, yaitu hubungan antara nutrisi, kesehatan, serta spiritualitas.
Dokter Tifa mengungkapkan alasan memilih Jokowi pada Pilpres 2014 karena merasa sama-sama alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Menurutnya, ada kebanggaan tersendiri ketika satu almamater berada dalam kontestasi Pilpres 2014 lalu ditambah Jokowi sendiri adalah Presiden yang berasal dari masyarakat sipil biasa."Saya memilih Presiden Joko Widodo, karena saya merasa bangga sebagai sesama alumni (UGM)," imbuhnya.Namun perlahan kebanggaan Dokter Tifa terhadap Jokowi luntur. Hal ini menyusul terungkapnya ijazah dan skripsi Jokowi yang diragukan keasliannya. Dengan hal tersebut, Dokter Tifa mengaku sangat menyesal bila ia pernah mendukung Jokowi pada 2014 karena rasa bangga Dokter Tifa pada Jokowi berujung pada pengkhianatan."Setiap kali terungkap tentang ijazah ini, setiap kali terungkap tentang skripsi ini, membuat saya menjadi sedih. Kenapa kebanggaan saya, kecintaan saya, dikhianati dengan pembohongan yang bisa kita buktikan nanti di pengadilan," imbuhnya.
"Pemenjaraan ratusan aktivis termasuk Bambang Tri dan Gus Nur, kematian mujahid KM 50, korban 135 orang Kanjuruhan, dugaan koruptor terbesar dunia OCCRP," imbuhnya.Agenda besar lainnya yang sudah dilakukan Jokowi, menurut Dokter Tifa, adalah rekayasa hukum di Mahkamah Konstitusi (MK) untuk meloloskan Gibran Rakabuming Raka. Berikutnya, lanjut Dokter Tifa, praktik pemalsuan ijazah hingga berakhir di pembakaran habis Pasar Pramuka Pojok."Kebohongan 6000 pesanan Esemka, korupsi Tol MBZ, IKN, Rempang, reklamasi, utang Rp8.000 triliun, dll daftar panjang sekali," ujarnya.Dokter Tifa menekankan, sekarang yang terjadi adalah pembongkaran agenda besar politik yang sudah terjadi 10 tahun oleh semua pihak: ilmuwan, akademisi, ulama, aktivis, politikus, alumni, relawan dan banyak pihak yang bangkit menegakkan kebenaran.
Tifa mengklaim, pengumpulan data untuk pembuatan buku terkait Gibran telah lengkap dan menyatakan bila buku tersebut akan segera dilaunching dalam waktu dekat."Alhamdulillah karena data-data dari Gibran itu juga sudah cukup lengkap, kami sudah selesai pada pengumpulan data," ucapnya.Setelah data terkumpul lengkap dan proses meta analisis rampung, maka buku Gibran`s Black Paper akan segera dirilis. Peluncuran buku yang awalnya dijadwalkan akhir tahun ini pun, dipercepat ke awal November."Insya Allah buku Gibran`s Black Paper maju ya dari jadwal kami di bulan Desember 2025, insya Allah awal bulan November 2025 sudah bisa kami rilis ya," ujarnya."Karena ini penting sekali kalau seandainya penelitian kami sudah lengkap ya, maka ini adalah sebuah senjata yang sangat tepat terhadap Gibran. Itu artinya layak untuk dimakzulkan ya," demikian sambungnya.
Tifauzia Tyassuma lebih dikenal sebagai Dokter Tifa, adalah seorang dokter, ilmuwan, penulis, dan aktivis kesehatan asal Indonesia yang dikenal karena pandangannya yang kritis terhadap kebijakan publik, terutama di bidang kesehatan dan politik.
Dokter Tifa lahir di Yogyakarta dan ia adalah seorang dokter dan ahli epidemiologi berkebangsaan Indonesia yang juga dikenal sebagai lulusan UGM serta UI.
Dokter Tifa juga merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) dan meraih gelar dokter umum di sana. Kemudian, Ia juga melanjutkan pendidikan magisternya di UGM hingga memperoleh gelar Master of Science (M.Sc).Tidak berhenti sampai disitu, Dokter Tifa kembali mengenyam pendidikan tingkat lanjut untuk studi doktoral bidang Epidemiologi Molekuler di Universitas Indonesia (UI).Selain itu, Dokter Tifa juga diketahui sempat belajar di Pusat Pengetahuan Pelayanan Kesehatan di Norwegia. Dokter Tifa memiliki pengalaman luas di bidang epidemiologi klinis dan ilmu saraf nutrisi.
Publik mengenal sosok Dokter Tifa yang kerap mengkritik isu sosial dan politik di Indonesia, namun perjalanan karier Dokter Tifa di dunia kesehatan sangat mentereng.
Ia sempat menjabat sebagai Direktur Eksekutif di Center for Clinical Epidemiology & Evidence RSCM Jakarta pada tahun 2009. Satu tahun setelahnya, yaitu pada 2010, Dokter Tifa dipercaya untuk menjabat posisi Sekretaris Jenderal Indonesian Clinical Epidemiology & Evidence-Based Medicine Network.Selain itu, ia juga menjabat sebagai presiden Ahlina Institute, Jakarta sejak tahun 2017. Ahlina Institute sendiri merupakan sebuah lembaga yang berfokus pada edukasi kesehatan, nutrisi, serta neurosains di Indonesia.Nggak hanya di bidang kesehatan, Dokter Tifa juga turut berkarya dengan menjadi seorang penulis. Ia diketahui telah menerbitkan dua buku yang berjudul “Body Revolution” dan “Nutrisi Surgawi”.Dalam kedua buku itu, Dokter Tifa membahas hal-hal yang telah dikuasainya, yaitu hubungan antara nutrisi, kesehatan, serta spiritualitas.
"Saya juga beberapa kali jadi penulis yang berkaitan dengan kesehatan," kata Dokter Tifa kepada Law-Justice.
Dulu Bangga Jadi Pendukung Jokowi
Selama ini, Dokter Tifa terkenal dengan berbagai kontroversinya yang berkaitan dengan Presiden ke 7 Jokowi. Beberapa kali Dokter Tifa mengkritisi berbagai kebijakan Jokowi.
Di dunia maya, Dokter Tifa dikenal cukup vokal dalam menyuarakan kritik terhadap kebijakan publik maupun isu sosial politik di Indonesia.Ia juga kerap mengkritik penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia yang cukup lambat. Dokter Tifa juga sempat mempertanyakan keaslian ijazah Presiden RI ke-7, Joko Widodo.Karena hal itu pula, Dokter Tifa sempat dilaporkan oleh organisasi masyarakat (ormas) Pemuda Patriot Nusantara bersama Relawan Joko Widodo ke Polres Metro Jakarta Pusat atas pernyataan Tifa yang meragukan keaslian ijazah Jokowi.Bahkan, Jokowi juga secara langsung melaporkan Dokter Tifa bersama Roy Suryo, Rizal Fadillah, dan Rismon Sianipar ke Polda Metro Jaya. Namun jauh sebelum itu semua, pada tahun 2014 Dokter Tifa merupakan pendukung Jokowi untuk menjadi Presiden ke 7 di periode pertama.
Untuk itu, Dokter Tifa membantah keras bila ia merupakan sosok pembenci utama Jokowi dan Keluarga. Pasalnya, pada 2014 ia sempat mendukung Jokowi dengan rasa bangga.
"Jadi Salah besar kalau saya membenci sosok Jokowi, dulu waktu 2014, Saya memilih Joko Widodo dengan kebanggaan," ujarnya.
Dokter Tifa mengungkapkan alasan memilih Jokowi pada Pilpres 2014 karena merasa sama-sama alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Menurutnya, ada kebanggaan tersendiri ketika satu almamater berada dalam kontestasi Pilpres 2014 lalu ditambah Jokowi sendiri adalah Presiden yang berasal dari masyarakat sipil biasa."Saya memilih Presiden Joko Widodo, karena saya merasa bangga sebagai sesama alumni (UGM)," imbuhnya.Namun perlahan kebanggaan Dokter Tifa terhadap Jokowi luntur. Hal ini menyusul terungkapnya ijazah dan skripsi Jokowi yang diragukan keasliannya. Dengan hal tersebut, Dokter Tifa mengaku sangat menyesal bila ia pernah mendukung Jokowi pada 2014 karena rasa bangga Dokter Tifa pada Jokowi berujung pada pengkhianatan."Setiap kali terungkap tentang ijazah ini, setiap kali terungkap tentang skripsi ini, membuat saya menjadi sedih. Kenapa kebanggaan saya, kecintaan saya, dikhianati dengan pembohongan yang bisa kita buktikan nanti di pengadilan," imbuhnya.
Vokal Kritik Jokowi
Tidak hanya kritis ketika Jokowi masih menjabat sebagai Presiden ke 7, Dokter Tifa juga belakangan ini kerap kali muncul untuk mempertanyakan keabsahan Ijazah Jokowi.
Hal tersebut berujung pada pelaporan Jokowi kepada Dokter Tifa dan beberapa nama lain seperti Rismon Sianipar dan Roy Suryo terkait kasus ijazah Jokowi. Semua itu bermula ketika Dokter Tifa sempat menuduh foto ijazah yang dimiliki Jokowi bukanlah wajah yang sebenarnya.
“Secanggih apapun teknik operasi plastik tidak akan bisa mengubah kelima hal itu, kecuali kepala orang diganti dengan kepala orang lain. Dalam hal foto di "ijazah" dengan foto Mulyono, kelima poin itu jelas tidak identik, alias beda 1 miliar persen,” ujarnya.
Pegiat Medsos tersebut menyatakan agenda besar politik Jokowi sudah terjadi sejak 2014 atau 10 tahun lalu. Agenda besar politik itu, antara lain wafatnya lebih dari 800 orang Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) pada Pemilu 2019.
Bahkan Dokter Tifa juga mengkritik pemenjaraan pada sejumlah aktivis yang dipenjara pada pemerintahan Jokowi. Hingga tragedi yang terjadi pada KM 50 dan Kanjuruhan yang terjadi di era Jokowi.
"Pemenjaraan ratusan aktivis termasuk Bambang Tri dan Gus Nur, kematian mujahid KM 50, korban 135 orang Kanjuruhan, dugaan koruptor terbesar dunia OCCRP," imbuhnya.Agenda besar lainnya yang sudah dilakukan Jokowi, menurut Dokter Tifa, adalah rekayasa hukum di Mahkamah Konstitusi (MK) untuk meloloskan Gibran Rakabuming Raka. Berikutnya, lanjut Dokter Tifa, praktik pemalsuan ijazah hingga berakhir di pembakaran habis Pasar Pramuka Pojok."Kebohongan 6000 pesanan Esemka, korupsi Tol MBZ, IKN, Rempang, reklamasi, utang Rp8.000 triliun, dll daftar panjang sekali," ujarnya.Dokter Tifa menekankan, sekarang yang terjadi adalah pembongkaran agenda besar politik yang sudah terjadi 10 tahun oleh semua pihak: ilmuwan, akademisi, ulama, aktivis, politikus, alumni, relawan dan banyak pihak yang bangkit menegakkan kebenaran.
"Allah tidak akan tinggal diam kepada kalian semua yang berbuat kejahatan," ujarnya.
Tidak Hanya Kritik Jokowi, Gibran juga Kerap Dikritik
Meski kini pemerintahan Jokowi sudah purna tugas, namun Dokter Tifa masih getol untuk memberi kritik kepada Jokowi sampai hari ini. Tidak hanya itu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga beberapa kali mendapatkan kritikan keras dari Dokter Tifa. Bahkan belakangan tidak hanya Ijazah Jokowi yang dipertanyakan namun juga Ijazah Gibran.
Pasalnya, Dokter Tifa mengklaim bila pendidikan yang ditempuh oleh Gibran Rakabuming selama belajar di Australia diduga tidak setara SMA. Untuk itu, Dokter Tifa menilai bila Wapres Gibran Rakabuming Raka sangat layak dimakzulkan jika pada akhirnya ijazah yang dimilikinya terbukti ijazah palsu.
"Gibran apakah dengan surat keterangan itu tidak eligible untuk maju ke wapres karena ia tidak punya ijazah SMA," klaimnya.
Dokter Tifa menegaskan bila Insearch Language Centre Sydney bukan sebuah institusi pendidikan yang bisa mewakili tentang SMA Gibran. Untuk itu, Dokter Tifa menyatakan bila Gibran layak untuk dimakzulkan."Jadi Gibran ini statusnya bagi kami impeachable, layak untuk dimakzulkan," imbuhnya.
Tidak hanya itu, Dokter Tifa mengungkapkan bila buku Gibran`s Black Paper akan segera diluncurkan. Ia menyebut bila buku tersebut berisi tentang data dan analisis terkait Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming atau anak Joko Widodo (Jokowi).
Tifa mengklaim, pengumpulan data untuk pembuatan buku terkait Gibran telah lengkap dan menyatakan bila buku tersebut akan segera dilaunching dalam waktu dekat."Alhamdulillah karena data-data dari Gibran itu juga sudah cukup lengkap, kami sudah selesai pada pengumpulan data," ucapnya.Setelah data terkumpul lengkap dan proses meta analisis rampung, maka buku Gibran`s Black Paper akan segera dirilis. Peluncuran buku yang awalnya dijadwalkan akhir tahun ini pun, dipercepat ke awal November."Insya Allah buku Gibran`s Black Paper maju ya dari jadwal kami di bulan Desember 2025, insya Allah awal bulan November 2025 sudah bisa kami rilis ya," ujarnya."Karena ini penting sekali kalau seandainya penelitian kami sudah lengkap ya, maka ini adalah sebuah senjata yang sangat tepat terhadap Gibran. Itu artinya layak untuk dimakzulkan ya," demikian sambungnya.
Share:
Tags:
Sebelumnya




Komentar