Thomas Trikasih Lembong - Mantan Menteri Perdagangan RI

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Jum'at, 29/08/2025 17:28 WIB
Mantan Menteri Perdagangan RI Thomas Trikasih Lembong. (LnJ)

Mantan Menteri Perdagangan RI Thomas Trikasih Lembong. (LnJ)

law-justice.co - Menjadi pesakitan, bisa jadi adalah moment terendah dalam kehidupan seorang Thomas Trikasih Lembong. Namun, di balik derita itu Tom justru memperoleh pencerahan. Bukan hanya melihat, dia merasakan langsung bentuk ketidakadilan di negeri yang dicintainya. Namun, dia beritikad tidak akan goyah dalam perjuangan. “Akhirnya kembali di rumah, bersama keluarga tercinta. Saya tetap setia dan gencar di garis perjuangan. Tapi izinkan saya menikmati sejenak, kebersamaan bareng keluarga,” ucap mantan Menteri Perdagangan RI ini di akun X miliknya tak lama usai keluar dari Rutan Cipinang, Jakarta Timur, Rabu (6/8/2025).

Tom Lembong resmi bebas usai mendapatkan abolisi dari Presiden Prabowo Subianto dan disetujui DPR RI pada Jumat (1/8/2025). Tom dipidana dalam kasus dugaan korupsi impor gula, dalam kasus ini dia diganjar hukuman 4,5 tahun penjara oleh hakim di PN Tipikor Jakpus. Usai bebas, Tom menyampaikan ucapan terima kasih ke Presiden Prabowo Subianto. "Saya juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden Prabowo Subianto atas pemberian abolisi serta pimpinan serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat atas pertimbangan dan persetujuannya," kata Tom Lembong.

Tom merasakan dinginnya kamar tahanan usai ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Kejaksaan Agung Oktober tahun lalu. Jaksa menuding dia terlibat dalam perkara dugaan korupsi impor gula saat dia menjabat Menteri Perdagangan. Penahanan terhadap Tom Lembong menarik perhatian publik, aroma dendam politik dianggap cukup pekat dalam penahanahannya. Dia dikenal sebagai co-captain sekaligus playmaker di Tim Pemenangan Nasional Amin (Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar) saat Pilpres 2024.

Nuansa dendam politik ini disinggung Pledoinya, surat penyidikan terhadap Tom keluar tak lama setelah ia bergabung dengan tim kampanye oposisi. Ia ditahan 2 minggu setelah penguasa dilantik secara resmi di DPR. Pada akhirnya, Tom merasakan langsung kejamnya dunia politik.

Tom mencemplungkan diri di dunia politik dimulai pada 2013, ketika Tom Lembong dipercaya menjadi penasihat ekonomi sekaligus penulis pidato Gubernur Jakarta kala itu, Joko Widodo. Peran sebagai penasihat dan penulis pidato Jokowi dia lanjutkan saat eks Wali Kota Solo itu terpilih menjadi presiden pada periode pertama. Tom Lembong ditunjuk Presiden Jokowi sebagai Menteri Perdagangan 2015-2016. Dia juga dipercaya menjadi Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal, kini berubah menjadi Kementerian Investasi, pada 2016-2019.

Dalam periode itu, dia juga dikenal sebagai orang di balik layar pidato yang disampaikan Presiden Jokowi, Tom Lembong telah menghasilkan pidato yang ikonik. Salah satunya adalah pidato "Game of Thrones" yang dibacakan Jokowi pada pertemuan IMF-Bank Dunia di Bali pada 2018. Ada juga pidato "Thanos" di forum Ekonomi Dunia.

Sebelum kecemplung dikolam politik sebagai pendukung Jokowi, nama Tom relatif tidak dikenal di Indonesia. Kiprahnya justru banyak dia lakukan di luar negeri. Ia mengenyam pendidikan sekolah dasar di Jerman hingga ia genap berusia 10 tahun. Saat kembali ke Indonesia, ia melanjutkan SD dan SMP di Sekolah Regina Pacis, di Jakarta. Saat di bangku SMA, ia kemudian pindah ke Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.

Mantan Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong resmi bebas dari Rumah Tahanan (Rutan) Cipinang, Jakarta Timur, pada Jumat malam (1/8/2025. (Bisnis)

Kemudian ia menempuh kuliah dengan mengambil jurusan bidang arsitektur dan perancangan kota di Universitas Harvard, Amerika Serikat. Kemudian ia lulus pada tahun 1994. Setelah ia menyelesaikan pendidikannya, ia pun memulai kariernya pada tahun 1995 dengan bekerja di Divisi Ekuitas Morgan Stanley di Singapura. Kemudian ia juga sempat bekerja sebagai bankir investasi di Deutsche Securities Indonesia sejak tahun 1999 hingga tahun 2000.

Usai mendampingi Jokowi, dia justru aktif mengkritisi dan mengkoreksi kebijakan Jokowi di periode kedua keprsidenannya. Tom Lembong pernah menyatakan penyesalannya menjadi bagian dari pemerintah. Setelah mendalami data-data ekonomi, ia merasa sangat sedih dan prihatin, serta memiliki rasa sesal karena merasa telah menjalankan strategi yang menurutnya tidak berhasil atau bahkan banyak gagal. Ia juga berpandangan bahwa pemimpin di dalam sistem pemerintahan seringkali tergoda atau terjebak oleh penjilat dan sistem itu sendiri, yang dapat menjerumuskan mereka.

Tom Lembong kemudian mendirikan Consilience Policy Institute yang resmi beroperasi di Singapura. Lembaga ini berfungsi sebagai wadah pemikir yang mengadvokasi kebijakan ekonomi internasionalis dan reformis di Indonesia. Dia kemdian dikenal lekat dengan Anies Baswedan. Pada Agustus 2021, Anies Baswedan yang saat itu menjabat Gubernur Jakarta menunjuk Tom Lembong sebagai Ketua Dewan PT Jaya Ancol, satu-satunya Badan Usaha Milik Pemerintah Provinsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, hingga tahun 2023.

Kedekatan ini terus berlanjut saat Tom Lembong bergabung dengan kubu calon presiden Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (AMIN). Ia ditunjuk sebagai salah satu co-captain dalam Tim Nasional Pemenangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Timnas AMIN) pada 14 November 2023. Peran ini membuatnya menjadi koordinator para kapten tim pemenangan.

Persahabatan Tom dengan Anies terus berlanjut, bahkan saat Tom menjadi tersangka dan kemudian terdakwa dalam perkara dugaan korupsi impor gula. Anies beberapa kali tampak menghadiri sidang Tom Lembong. Dia juga ikut menyambut Tom Lembong saat bebas dari Rutan Cipinang. Meski sempat menjalani hidup di baik terali besi yang menurutnya akibat dendam politik, ternyata tak mengurangi cintanya kepada Indonesia. “Saya justru semakin cinta Indonesia ketika melihat ketidakadilannya dari dekat. Jangan pernah lelah, dan jangan pernah berhenti untuk mencintai Indonesia,” ujarnya.

(Bandot DM\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar