Harga Minyak Dunia Naik Lebih dari 3 Persen Akibat Perang Iran

Jakarta, - Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3% pada perdagangan Senin (1/6/2026) setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melancarkan serangan, sementara Israel memerintahkan pasukannya untuk bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon dalam konflik melawan kelompok Hezbollah yang didukung Teheran. 

Kontrak berjangka minyak mentah AS (West Texas Intermediate/WTI) naik US$ 2,88 atau 3,3% menjadi US$ 90,24 per barel pada pukul 07.01 GMT. 

Sementara itu, minyak mentah Brent menguat US$ 2,78 atau 3,05% menjadi US$ 93,90 per barel. Kenaikan harga terjadi setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang meredupkan harapan pasar terhadap kemungkinan perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran dalam waktu dekat. 

Sebelumnya, pada Jumat (29/5/2026), Washington menjadi tuan rumah perundingan perdamaian antara Israel dan Lebanon. Optimisme atas kemungkinan perpanjangan gencatan senjata sempat menekan harga minyak, membuat Brent dan WTI masing-masing ditutup turun 1,8% dan 1,7%. 

Namun situasi berubah setelah AS pada Minggu (31/5/2026) menyatakan telah melakukan "serangan untuk membela diri" terhadap fasilitas radar dan lokasi pengendalian drone Iran di Goruk dan Pulau Qeshm pada akhir pekan. 

Washington menyebut langkah tersebut sebagai respons atas tindakan "agresif" yang dilakukan Teheran.

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Senin mengumumkan bahwa unit kedirgantaraannya telah menargetkan sebuah pangkalan udara yang digunakan dalam serangan AS terhadap menara telekomunikasi di Pulau Sirik. 

Nasib Gencatan Senjata Masih Menggantung Presiden AS Donald Trump pada Jumat mengatakan bahwa dirinya akan segera mengambil keputusan terkait proposal perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan pada awal April lalu. 

Perpanjangan tersebut diharapkan memberikan lebih banyak waktu bagi para perunding untuk mencari solusi permanen guna mengakhiri konflik sekaligus menyelesaikan sengketa terkait program nuklir Iran. Israel diperkirakan akan memainkan peran penting dalam setiap kesepakatan yang tercapai. 

Di sisi lain, Iran berulang kali menegaskan bahwa Hezbollah harus dilibatkan dalam proses tersebut. Seorang pejabat AS pada Minggu mengungkapkan bahwa Washington telah mengusulkan rencana "de-eskalasi bertahap", di mana Hezbollah akan menghentikan serangan terhadap Israel sebagai imbalan atas komitmen Israel untuk tidak meningkatkan operasi militernya di Beirut. 

 Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, mengatakan bahwa kekhawatiran terkait keberadaan ranjau laut di Selat Hormuz terus meningkat. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memperlambat proses pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut dan menyebabkan pasokan minyak global tidak segera pulih meskipun selat tersebut nantinya kembali dibuka. "Bahkan jika kesepakatan tercapai, hal itu tidak akan langsung menghasilkan lonjakan besar pasokan minyak," ujar Sycamore.